Senin, 19 Januari 2009

KA'BAH pernah tergenang air


Mekkah yang berada di Saudi;sebuah kawasan digurun pasir yang panas dan kering, secara logika, bakalan bebas sama sekali dari bencana banjir. Kenyataanya, tidak seperti itu. Data membuktikan, banjir bisa melanda Mekkah, bahkan megenangi Ka’bah. Bagaimana mungkin bisa terjadi? Inilah kekuasaan Allah.
Beberapa Kali
Ka’bah sebagai kiblat muslim, bukan hanya sekali mengalami kebanjiran, bahkan beberapa kali. Misalnya, pada saat Rasulullah SAW masih hidup. Ketika banjir terjadi Rasulullah SAW masih hidup. Rasulullah berusia 35 tahun 5 tahun sebelum diangkat sebagai rasul. Banjir membuat Ka’bah rusak dan memerlukan perbaikan yang cukup berarti.

Catatan lain, pada tahun 1039 H (1619M) terjadi hujan yang sangat lebat disusul banjir yang mengenai Ka’bah. Kerusakan melanda Ka’bah. Banjir yang tepatnya terjadi pada tanggal 19 Syaban 1039 H ini terus berlanjut, sehingga air yang mengenangi Ka’bah makin naik hingga mendekati separuh dinding Ka’bah.
Kamis, 20 Syaban 1039 H, dinding timur dan barat Ka’bah runtuh. Saat banjir mulai surut hari Jum’at 21 Syaban, dimulailah kegiatan pembersihan, tirai yang digunakan Abdullah bin Zubair dalam membangun empat tiang diletakkan kembali. Rekonstruksi dimulai tanggal 26 Ramadhan. Sisa dinding kecuali satu yang berada didekat batu hajar aswad, dihilangkan.
Terulang kembali
Saat musim haji baru lalu (Zulhijjah 1425 / Pebruari 2005), datanglah banjir yang tak terduga. Daerah yang terkena cukup luas, termasuk Mina, Safa serta Marwah.
Peristiwanya diawali dengan turunya hujan lebat siang hari, dihari tasrik ke 2 tanggal 12 Zulhijjah 1425H. Saat hujan deras menguyur daerah gurun Saudi yang kering, ribuan jamaah yang telah selesai menunaikan shalat Ied;yang merupakan rangkaian terakhir ibadah haji, berbondong-bondong menhindari banjir. Air banjir surut keesokan harinya 13 Zulhijjah.
Seorang pebisnis dari Johannesburg (ibu kota Afrika Selatan), Salahudin Lambat, yang berbicara melalui telepon di Mekkah mengatakan hampir seluruh jamaah dari negaranya telah meningglkan Mina saat hujan menguyur kota tersebut. Ini merupakan hujan terlebat yang pernah dijumpainya sejak beberapa tahun lalu.
Berkaitan dengan musibah tersebut, Menteri Urusan Haji Arab Saudi pada waktu itu, Dr Eyad Amin Madani mengatakan banjir yang terjadi tidak sampai membuat panik para jemaah. Pemerintah Saudi sendiri dijelaskan telah mempersiapkan segala sesuatu menghadapi berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
Tetapi semua keputusan ditangan Yang Maha Kuasa. Maka daerah tandus menjadi banjir menjadi sah-sah saja.
Sumber : Majalah Mawaddah

1 komentar:

M.Nurhadi Saman mengatakan...

posting yang menarik bro... keep posting